Minggu, 27 Oktober 2013

PEMBINAAN DAN PEMBIMBINGAN PESERTA DIDIK PADA INSTITUSI PENDIDIKAN BERASRAMA


IRFAN SETIAWAN, S.IP, M.SI
PENERBIT : WRITING REVOLUTION
ISBN : 978 602 7858 43-5



Bila berminat silahkan menghubungi kami di 081321123795 atau email ippank04@gmail.com

Dalam buku ini mendeskripsikan metode pembinaan dan pengelolaan institusi pendidikan berasrama yang banyak mengambil contoh pada Institusi pesantren, Institusi pendidikan kedinasan dan Institusi pendidikan umum. 

------------------------------------------------------------------------------------------------------------



DAFTAR ISI

PENGANTAR



BAB I
BOARDING SCHOOL
1


A. Peserta didik
6


B. Kegiatan pendidikan                 
9


C. Fasilitas asrama
10


BAB II
MODEL DAN BUDAYA LEMBAGA PENDIDIKAN BERASRAMA
17


A. Model Lembaga Pendidikan  Berasrama
17


B. Budaya Lembaga Pendidikan  Berasrama
22


C. Pengaruh Buruk Efek  Globalisasi Terhadap Sekolah    Berasrama 

26

BAB III
METODE PEMBINAAN DAN PEMBIMBINGAN PESERTA DIDIK
35


A. Konsep Pengasuhan
37


B. Metode Pengasuhan
49


C. Materi Pembinaan  Karakter di  Lingkungan Asrama
54


D. Hak dan Kewajiban Peserta    Didik
57


E. Pengasuh

74

BAB V    
EVALUASI
78


A. Evaluasi Peserta Didik
78


B. Pelaksanaan Evaluasi
86


BAB VI
HAMBATAN DAN TANTANGAN
INSTITUSI PENDIDIKAN BERASRAMA
93


A. Hambatan
93


B. Tantangan Institusi pendidikan  Berasrama

95

PUSTAKA

99

------------------------------------------------------------------------------------------------------------


PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan buku yang berjudul “Metode Pembinaan dan Pembimbingan Peserta Didik Pada Institusi Pendidikan Berasrama”.
Penyusunan buku ini dimaksudkan untuk menambah kaedah pembinaan dan pembimbingan  peserta didik pada institusi dengan model Boarding School, sehingga diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran terhadap pengelola dan Pelaksana institusi serta memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai Boarding School. Buku ini pula tersusun berdasarkan pengetahuan dan pengalaman penulis sebagai pengasuh dan pembina pengasuhan di lingkungan Institut Pemerintahan Dalam Negeri.
Dalam buku ini mendeskripsikan metode pembinaan dan pengelolaan institusi pendidikan berasrama yang banyak mengambil contoh pada Institusi pesantren, Institusi pendidikan kedinasan dan Institusi pendidikan umum. Pokok-pokok pembahasan buku ini terdiri dari 5 bab yang akan membahas secara mendasar yaitu: Bab 1 Konsep Boarding School khususnya di Indonesia; Bab 2 Model dan budaya lembaga pendidikan berasrama; Bab 3 Metode pembinaan dan pembimbingan peserta didik; Bab 4 Evaluasi; dan Bab 5 Hambatan dan tantangan institusi pendidikan berasrama.
Penulis menyadari bahwa buku ini ini masih terdapat kekurangan dalam mengulas secara mendetail kurikulum dan aspek pengelolaan asrama, dikarenakan keterbatasan penulis. Oleh karena itu dengan senang hati penulis akan menerima seluruh kritik dan saran yang bersifat membangun guna pengembangan pengelolaan Institusi pendidikan berasrama.
Dalam kesempatan ini tim peneliti mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dalam penyelesaian buku ini. Semoga buku ini dapat menambah kaedah dalam pembinaan peserta didik untuk pembangunan karakter manusia Indonesia.


Jatinangor,  Juli  2013
Penulis



Irfan Setiawan, S.IP, M.Si



----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


BAB I
BOARDING SCHOOL

Ada fenomena menarik dari dunia pendidikan yang telah diselenggarakan sejak dulu, baik itu di indonesia maupun di luar negeri. Menjadi suatu fenomena karena sampai saat ini tetap menarik perhatian para pelajar dan orangtua diberbagai tingkatan. Sebenarnya sejak dulu kita telah mengenal lembaga-institusi pendidikan yang mengharuskan pelajar, peserta didik atau mahasiswa didiknya untuk tinggal dan belajar di dalam area sekolah atau kampus. Kita telah mengenal sistem pendidikan tersebut dengan pola sekolah berasrama atau yang lebih sering didengar dengan istilah boarding school seperti di pondok pesantren, sekolah-sekolah gereja, sekolah pada lembaga-institusi pendidikan kedinasan.
Sistem pendidikan dengan pola boarding school, mengharuskan peserta didiknya mengikuti kegiatan pendidikan reguler dari pagi sampai siang hari kemudian dilanjutkan dengan kegiatan pendidikan dengan nilai-nilai khusus pada sore dan malam hari misalkan; kegiatan pengkajian Al Qur’an di pesantren, pengkajian Alkitab di gereja, kegiatan ekstrakurikuler, kegiatan pembinaan disiplin dan lain sebagainya. Di Indonesia terdapat ratusan bahkan mungkin ribuan institusi pendidikan yang menerapkan boarding school, dimana tersebarnya di berbagai provinsi seperti;  pondok pesantren, sekolah-sekolah gereja, institusi pendidikan kedinasan (IPDN, Akmil, Akpol, Sekolah Tinggi Pelayaran, STKS, STT-Telkom dll).
Sampai saat ini peminat dari boarding school selalu bertambah, walaupun para peserta didiknya sudah dapat membayangkan kegiatan yang super padat di dalamnya. Mereka di bentuk untuk menguasai ilmu pengetahuan, teknologi serta nilai-nilai khusus yang di harapkan oleh institusi pendidikan. Hari-hari mereka akan bergelut dengan rekan sebaya, guru, dosen dan civitas dalam institusi pendidikan secara rutin mulai dari pagi hingga malam hari sampai esok paginya lagi. 
Sekolah berasrama merupakan model sekolah yang memiliki tuntutan yang lebih tinggi jika dibanding sekolah reguler (Vembriarto, 1993). Tuntutan-tuntutan tersebut dapat memberikan dampak yang positif maupun negatif bagi kehidupan peserta didik. Dampak positif dari sekolah berasrama tersebut antara lain membangun wawasan pendidikan keagamaan yang tidak hanya sampai pada tataran teoritis tapi juga implementasi baik dalam konteks belajar ilmu maupun belajar hidup, membangun wawasan nasional peserta didik sehingga terbiasa berinteraksi dengan teman sebaya yang berasal dari berbagai latar belakang dan dapat melatih anak untuk menghargai pluralitas, memberikan jaminan keamanan dengan tata tertib yang dibuat secara jelas serta sanksi-sanksi bagi pelanggarnya sehingga keamaanan anak terjaga seperti terhindar dari pergaulan bebas, dan lain-lain (Maknun, 2006)....................


----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


BAB II
MODEL DAN BUDAYA
INSTITUSI PENDIDIKAN BERASRAMA

Dalam satu dekade terakhir terdapat perkembangan dalam bidang pendidikan khususnya terkait berdirinya sekolah-sekolah berasrama, baik dengan mengusung kurikulum tambahan seperti yang berbasis keagamaan dan yang berbasis nasionalisme maupun yang non kurikulum tambahan. Hal ini tidak terlepas dari kesadaran orangtua ataupun peserta didik itu sendiri untuk sekolah ataupun kuliah pada institusi pendidikan berasrama yang cukup meningkat.
Keresahan para orangtua terhadap maraknya peredaran narkoba, pergaulan remaja, dan keamanan membuat mereka berpikir untuk menyekolahkan dan atau mengkuliahkan anaknya di institusi pendidikan berasrama. Sebagian lagi orangtua memilih institusi pendidikan berasrama karena menginginkan anaknya memiliki bekal pendidikan keagamaan ataupun perilaku disiplin. Lainnya dikarenakan kesadaran orang tua bersama peserta didik itu sendiri yang menginginkan masa depan yang lebih pasti sehingga menyekolahkan anaknya pada insttitusi pendidikan kedinasan yang pada umumnya berasrama.

A.         Model Institusi Pendidikan Berasrama
Sebelum memilih institusi pendidikan berasrama, baiknya para orangtua dan calon peserta didik hendaknya mengetahui bentuk dan model asrama yang hendak dipilih. Ada berbagai bentuk dan model kehidupan asrama yang berbeda-beda pada institusi pendidikan. Untuk lebih jelasnya diuraikan sebagai berikut:
1.         Berdasarkan cara bermukim peserta didik
a)       Seluruh peserta didik tinggal di asrama selama proses pendidikan
Pada model ini, peserta didik akan tinggal di asrama selama proses pendidikan sesuai dengan peraturan pendidikan yang diterapkan. Peserta didik dapat kembali pulang ke rumah masing-masing ketika proses pendidikan selesai dan atau ketika mereka telah yudicium kenaikan tingkat. Ketika kembali ke kampung halaman atau rumah masing-masing, peserta didik tetap mengikuti peraturan pendidikan seperti tetap mengenakan pakaian dinas, tetap mengikuti aturan kehidupan peserta didik seperti ketika mereka berada di dalam lembaga pendidikan.
b)       Seluruh peserta didik tinggal di asrama namun dapat pulang pada weekend atau hari libur
Peserta didik tinggal di asrama selama hari kerja, mengikuti kegiatan dan aturan pendidikan selama di asrama. Namun pada hari sabtu dan minggu serta hari libur lainnya peserta didik dapat kembali ke rumah masing-masing atau menginap diluar asrama. Ketika di luar asrama para peserta didik tidak diwajibkan untuk mengenakan pakaian dinas dan juga tidak diwajibkan untuk mengikuti peraturan kehidupan yang berlaku dalam asrama.
c)       Hanya sebagian peserta didik yang tinggal di asrama dan kapan saja dapat pulang kerumah
Pada model ini, peserta didik diberikan kebebasan untuk memilih tinggal di asrama atau tetap berada dirumah/kost atau menginap di luar asrama. Peserta didik yang berada di asrama tetap mengikuti peraturan kehidupan peserta didik yang berlaku, namun peraturan tersebut tidak terlalu ketat seperti kedua model di atas.
2.         Berdasarkan jenis peserta didik
a)       Boarding school untuk murid SD, SMP dan SMA yang berkelanjutan (pesantren)
b)       Boarding school untuk murid SMA (pesantren, SMK, SMA)
c)       Boarding school untuk tingkat mahasiswa (IPDN, Akmil, UMJ, President University dll)
3.         Berdasarkan sistem kurikulum
a)       Boarding school yang kurikulumnya mengacu pada agama tertentu
Pada model ini, beberapa institusi pendidikan melaksanakan kurikulum yang hanya khusus pada ajaran agama tertentu, dan beberapa lainnya ada institusi juga yang mengkombinasikan dengan mata pelajaran/ kuliah pada umumnya pada pagi harinya sementara pada sore dan malam hari melaksanakan pendidikan keagamaan.
b)       Boarding school yang kurikulumnya mengacu nasionalisme, biasanya berbentuk sistem militerisme atau semi militerisme.
Model institusi pendidikan seperti ini banyak dipakai pada lembaga pendidikan kedinasan. Peserta didik menjalani proses pendidikan dengan kurikulum yang sesuai kebutuhan institusinya, namun ditambah dengan kurikulum dan peraturan pendidikan khusus yang mengadopsi kedisiplinan militer
c)       Boarding school yang kurikulumnya mengacu pada penanganan anak bermasalah
Institusi pendidikan pada model ini, hanya melaksanakan kurikulum untuk penanganan anak-anak yang bermasalah seperti narkoba, perkelahian dsb, namun tidak mengadakan format pendidikan umum. Peserta didiknya juga berasal dari tingkatan umur remaja yang berbeda-beda.

Peserta didik yang mengikuti pendidikan pada institusi berasrama dihadapkan pada situasi hidup terpisah dengan orangtua kemudian bertemu dengan orang-orang baru sesama peserta didik dan civitas akademika tentunya memerlukan kemampuan penyesuaian diri. Dalam hal ini dibutuhkan kemampuan penyesuaian diri dan kemauan yang besar dari peserta didik untuk mengikuti setiap kegiatan yang dilaksanakan dalam pendidikan.
Suasana asrama dengan beragam sifat, budaya dan prilaku tiap individu peserta didik sangat memberikan andil dalam pembentukan budaya baru dalam asrama. Institusi asrama tingkat lokal saja biasanya sudah dipenuhi oleh peserta didik yang berlainan bahasa, dialek serta sukunya, apalagi bila institusi yang bertaraf nasional. Bisa dibayangkan dalam satu kamar yang diisi oleh peserta didik dari suku batak, jawa, bugis, betawi, sunda. Tentunya perlu kemampuan penyesuaian diri yang baik. .......



----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

BAB III
METODE PEMBINAAN
DAN PEMBIMBINGAN PESERTA DIDIK

Undang-Undang Dasar 1945 menegaskan bahwa negara berkewajiban dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, salah satu upayanya melalui bidang pendidikan.  Sehingga pemerintah meneruskan ke dalam kebijakan pendidikan nasional yang berfungsi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pengembangan kemampuan serta pembentukan watak dan peradaban bangsa yang bermartabat di tengah persaingan zaman.
Kebijakan pendidikan nasional memiliki tujuan pengembangan potensi sumber daya manusia agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
Tujuan ini sejalan dengan salah satu tantangan terbesar yang dihadapi bangsa Indonesia di abad 21, yaitu menampilkan profesionalisme SDM yang memiliki jatidiri yang berimtaq, berkualitas serta mampu dan mau mengakualisasikan peran dan fungsinya dalam mengambil kebijakan dan memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat.
Pendidikan menjadi suatu yang penting, dan telah menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda-tunda lagi, maka untuk mencetak generasi masa depan diperlukan institusi pendidikan yang dapat memberikan pendidikan secara komprehensif, baik dari segi intelektual, sikap dan keterampilan. Model pendidikan seperti ini banyak diterapkan pada institusi pendidikan dimana peserta didiknya tinggal di dalam asrama.
Lembaga pendidikan berasrama menerapkan pendidikan berupa pengembangan intelektual, keterampilan dan pembentukan sikap. Pengembangan intelektual berupa pengajaran mata kuliah/pelajaran di kelas, pengembangan keterampilan berupa praktek keterampilan di tempat/ruang khusus sesuai dengan mata pelatihan keterampilan dan pembentukan sikap berupa kegiatan pengasuhan.
Salah satu unsur penting dalam sistem pendidikan berasrama adalah bidang pengasuhan. Kegiatan pengasuhan sebagai bagian dari upaya pendidikan dilaksanakan dalam rangka menumbuhkan, mengembangkan dan memantapkan kepribadian peserta didik agar memiliki nilai-nilai moral, etika dan tingkah laku yang dibutuhkan. Dalam pelaksanaannya kegiatan pengasuhan merupakan proses yang berjalan secara simultan dan terintegrasi dengan upaya-upaya pendidikan lainnya.
Beberapa institusi pendidikan menerapkan metode pembinaan dan pembimbingan peserta didik melalui kegiatan pengasuhan sebagai suatu kurikulum yang terintegrasi dengan upaya-upaya pendidikan. Dimana peserta didiknya diwajibkan mengikuti kegiatan pengasuhan sebagai salah satu syarat untuk menuju tingkat/kelas selanjutnya. Beberapa yang lainnya lagi tidak menerapkan sebagai kurikulum namun tetap menjadi pedoman aturan untuk mengikuti pendidikan di dalam asrama..............



----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

BAB IV
EVALUASI

Pelaksanaan pembinaan dan pembimbingan peserta didik pada beberapa institusi pendidikan berasrama seperti Akabri, IPDN, Akpol dan institusi lainnya, menerapkan evaluasi terhadap perkembangan kepribadian peserta didik. Sebagaimana yang diutarakan Husdarta dan Nurlan Kusmaedi (2010: 206) bahwa kepribadian merupakan organisasi dinamis dalam diri individu yang terdiri dari system-sistem psiko fisik yang menentukan cara penyesuaian diri yang unik (khusus) dari individu terhadap lingkungannya. Apakah perkembangan kepribadiannya mampu untuk mengikuti tingkat yang lebih tinggi atau tidak.
Evaluasi tersebut juga menentukan berhak tidaknya peserta didik untuk melanjutkan ke tingkat lebih tinggi. Sehingga selain penilaian akademik peserta didik, juga menilai perkembangan kepribadian. Berikut ini diuraikan cara mengevaluasi peserta didik. Berbagai metode evaluasi yang diterapkan memiliki kelebihan dan kekurangan. Hal tersebut juga tentunya tergantung pemahaman para pembina/pengasuh yang melakukan pengamatan dan penilaian.

A.        Evaluasi Peserta Didik
Evaluasi pengasuhan peserta didik adalah bentuk kegiatan yang ditujukan  mencari keserasian tingkat perkembangan kualitas sikap dan perilaku peserta didik selama mengikuti pendidikan di Institusi berasrama, sehingga diperoleh data yang akurat dan terukur tentang keberhasilan praja dalam mencapai tingkat kualifikasi yang ditentukan dan diharapkan. Berbagai cara dan metode evaluasi yang diterapkan dalam menentukan layak tidaknya peserta didik untuk naik ketingkat selanjutnya.
Di beberapa institusi pendidikan kedinasan banyak yang menerapkan sistem skoring dengan nilai 0.01 sampai 4.00. Hasil penilaian terhadap kepribadian peserta didik diwujudkan dalam bentuk Nilai Akhir Prestasi Pengasuhan dengan kriteria sebagai berikut :
Tabel 4.1
Tabel Skoring Penilaian Peserta Didik
Penilaian / Kategori
Indeks Prestasi
Nilai  A  ( sangat baik )
3,01 –  4,00
Nilai  B ( baik )
2,01 –  3,00
Nilai  C ( kurang baik )
1,01 –  2,00
Nilai  D ( tidak baik)
0,01 –  1,00

Penilaian diambil berdasarkan observasi harian, mingguan dan bulanan yang dilakukan oleh  pengasuh sesuai dari materi-materi pengembangan karakter sebagaimana dipaparkan pada bab sebelumnya.



----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


BAB V
HAMBATAN DAN TANTANGAN
INSTITUSI PENDIDIKAN BERASRAMA

Di era globalisasi sekarang ini, bentuk-bentuk hambatan dan tantangan dalam pengelolaan pendidikan berasrama menjadi sangat beragam. Dulu, orang memakai surat untuk berkomunikasi dengan orang lain, namun sekarang tinggal pencet tombol (Handphone), sudah dapat berkomunikasi 2 arah, bahkan bisa dalam bentuk video (video chat).
Begitu pun dengan pergaulan, pada waktu dulu, para pria yang melamar dan menyatakan suka kepada seorang wanita, namun pada zaman sekarang kadang wanita pun sering tanpa malu-malu mengatakan suka kepada pria. 
Berbagai hambatan dan tantangan ke depa dalam pelaksanaan institusi pendidikan berasrama.

A.       Hambatan
Dalam  membentuk karakter, kadangkala institusi pendidikan mengalami hambatan dalam proses pembentukan karakter tersebut. Hambatan tersebut muncul dari :
1.         pembina/instruktur yang kurang profesional,
Pembina atau instruktur ataupun pengasuh kadang kurang mengerti tugas dan tanggunjawab yang hendak dikerjakan. Sehingga hanya datang kemudian bercengkrama dengan rekan sejawat dan melupakan untuk .....................










----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------



DAFTAR PUSTAKA



Bimo Walgito 2005, Bimbingan dan Konseling, (studi & karier) Andi Offset, Yogyakarta

Johar Maknun, 2006, Pengembangan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Boarding School Berbasis Keungulan Lokal, http://file.upi.edu/Direktori/SPS/PRODI.PENDI DIKAN_IPA/196803081993031-JOHAR_MAKNUN/smk-boarding-school.pdf

Ida Rahmawati, 2013, Pola Pembinaan Santri Dalam Mengendalikan Perilaku Menyimpang Di Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin, Desa Kalipuro, Kecamatan Punggung, Mojokerto, Kajian Moral dan Kewarganegaraan No 1 Vol 1 Tahun 2013, ejournal.unesa.ac.id/article/3256/41/article.pdf

Jamal ma’mur asmani, 2011 Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah, Jakarta, Diva Press

JS. Husdarta dan Nurlan Kusmaedi, 2010, Pertumbuhan dan Perkembangan Peserta Didik, (olahraga dan Kesehatan), Alfabeta, Bandung

Kelvin Seifert, 2012, Pedoman Pembelajaran & Instruksi Pendidikan, IRCiSoD, Jogjakarta

Koentjaraningrat1996. Pengantar Ilmu Antropologi. Jilid I. Jakarta: Rineka Cipta

Kurikulum Pembinaan, www.stail.ac.id/ index.php/2013-01-28-07-58-01/kurikulum-pembinaan

Maila Dinia Husni Rahiem dkk, 2012, School Culture and the Moral Development of Children, http://www.ipedr.com /vol56/023-ICOSH2012-F10036.pdf


Milson, Andrew J & Mehlig, Lisa M, 2002, Elementary School Teachers' Sense of Efficacy for Character Education. The Journal of Educational Research, Vol. 96, No. 1, pp. 47-53 http://www.jstor.org/stable/27542411

Muhaimin, 2009, Rekonstruksi Pendidikan Islam, dari Paradigma Pengembangan, Manajeman  Kelembagaan, Kurikulum hingga Strategi Pembelajaran  Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Muhammad Mujibur Rohman dkk, 2012, Pendidikan Karakter di Pesantren Darul Falah Kecamatan Jekulo kabupaten Kudus, Journal of Educational Social Studies, Prodi Pendidikan IPS, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Semarang.

Oemar Hamalik, 1995, Kurikulum dan pembelajaran, Jakarta, Bumi Aksara

Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 40 Tahun 2009 tentang Pembinaan Praja IPDN

Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 41 Tahun 2009 tentang Peraturan Disiplin Praja IPDN

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 45 Tahun 2009 Tentang Standar Kompetensi Pengasuh Institut Pemerintahan Dalam Negeri

Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 46 Tahun 2009 tentang Pedoman Tata kehidupan Praja IPDN

Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 14 Tahun 2012 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 41 Tahun 2009 tentang Peraturan Disiplin Praja IPDN

Vembriarto, St. 1993. Sosiologi Pendidikan. Jakarta : Grasindo.

Model PPAMB www.asramatpbipb.ac.id/index.php/program-pembinaan/model-ppamb

Program Pengasuhan, http://bukhari.or.id/index.php?optioncom_content&view=article&id=26


Pengasuhan Asrama, www.darfathimah.com/pengasuhan-asrama 

4 komentar:

  1. kang... saya mau dong bukunya... bisa pesan ??

    BalasHapus
  2. boleh aja, sy udah kirim email untuk jelasnya...
    makasih

    BalasHapus
  3. pak klw mau pesan bkuny dmna dan berapa hrga bukuny. termksh

    BalasHapus
  4. Saya mau pesan bukunya bagaimana cara pemesanannya

    BalasHapus